Tanggal 2 Mei 2020 bertepatan dengan peringatan hari pendidikan Nasional, peserta didik untuk jenjang SMA/MA dan SMK/MAK di seluruh tanah air tercinta ini menerima pengumuman kelulusan. Demikian juga di SMA N 4 Surakarta sebagai unit instansi penulis. Moment yang biasanya sangat ditunggu tunggu sebagai puncak pendidikan mereka selama 3 tahun, pada saat ini dilakukan dengan cara yang sangat berbeda dari tahun tahun sebelumnya.
POJOK LENGANG KELULUSAN
PESERTA DIDIK TH 2020
( SEBUAH REFLEKSI PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI COVID 19)
Tanggal 2 Mei 2020 bertepatan dengan peringatan hari pendidikan Nasional, peserta didik untuk jenjang SMA/MA dan SMK/MAK di seluruh tanah air tercinta ini menerima pengu
muman kelulusan. Demikian juga di SMA N 4 Surakarta sebagai unit instansi penulis. Moment yang biasanya sangat ditunggu tunggu sebagai puncak pendidikan mereka selama 3 tahun, pada saat ini dilakukan dengan cara yang sangat berbeda dari tahun tahun sebelumnya.
Dalam situasi pandemi covid 19 mereka menerima pengumuman kelulusan dengan menerapkan soscial distanching. Tidak ada kehadiran fisik, tidak ada kerumunan massa, tidak ada euforia yang biasanya sebagai penanda kebahagiaan mereka. Semua aktifitas dilakukan secara daring. Kelulusan ini adalah bagian dari kebijakan pendidikan Indonesia di masa KLB (Kondisi luar biasa).
Kondisi luar biasa yang membuat penulis mengamatinya sebagai kondisi yang spesial. Ada banyak kata untuk menggambarkan situasi pada saat ini tetapi saya lebih suka menggunakan kata spesial.
Ya spesial... bagaimana tidak special ?… Situasi seperti ini baru terjadi pertama kalinya dalam hidup mereka termasuk dalam hidup saya sebagai guru mereka. Special artinya ini kondisi lain dari yang lain. Di saat akhir dari 3 tahun yang dijalaninya dalam menempuh pendidikan di sekolah dan saat harus berpisah dari segala hal yang telah membelajarkannya menjadi pribadi yang lebih dewasa, semua harus dilakukan dengan cara di luar ekspetasi mereka. Media daring menjadi kebijakan yang harus ditempuh. Bahkan ucapan selamat berpisah dari kepala sekolah pun di tayangkan melalui media sosial.
Beberapa pendapat dari mereka ketika diminta untuk menggambarkan situasi ini dengan satu kata adalah tragis…ironis…fantastis…menyedihkan…sepi...unik…unbelieveable…berkesan…antik…hening... istimewa...dan seterusnya (hasil quisioner dengan responden kelas XII).
Yang pasti sejarah mencatat situasi ini menjadi bagian dari perjalanan bangsa khususnya di bidang pendidikan khsusnya di SMA N 4 Surakarta. Bahkan semestinya kita catat dengan tinta emas, menjadi kenangan dan hikmah yang teramat dalam.
Hikmah yang dirasakan adalah adanya kesadaran pentingnya peran guru, orang tua, dan teman dalam proses pendidikan, kesadaran menjaga kebersihan, kesadaran berempati dan peduli kepada sesama, kesadaran pentingnya kebersamaan, kesadaran semangat nasionalisme sebagai satu bangsa yang berjuang bersama melawan covid 19, kesadaran pentingnya teknologi, kesadaran berharganya waktu, dan seterusnya.
Apa yang terjadi dan dirasakan oleh peserta didik khususnya di SMA N 4 Surakarta, penulis coba rangkum di tulisan ini. Kita bisa mencerna dari hasil kuisioner yang diisi secara acak oleh 100 peserta didik kelas XII. Pada umumnya mereka katakan “ Ya kami diberi kemudahan untuk lulus, kami tidak harus mengerjakan UN, kami bersyukur, kami tetap semangat, tapi kami sedih karena berasa ada yang kurang, karena tidak bisa merayakan kegembiraan bersama teman teman dan guru kami “.
Inilah curahan hati peserta didik kelas XII untuk kelulusan spesial mereka di tengah kondisi pandemi Covid 19
Lusia Dara (SMA N 4). Sedih, karena semua tidak berjalan sesuai ekspektasi.
Diana (SMA N 4). Kelulusan tahun ini dapat dikatakan sebagai kelulusan yang paling mudah dan beda dari tahun sebelumnya. Tetapi ada rasa sedih karena kami tidak dapat berkumpul/ bertemu dengan teman - teman untuk mengucapkan selamat dan merayakanya bersama.
Fitrianan (SMA N 4). Kelulusan tahun ini sangat hambar rasanya, karena hanya di rumah saja. Tidak ada rasa cemas yang dirasakan, karena tidak ada ujian nasional
Chintya Diffa A (SMA N 4). Rasanya hambar, tidak ada momen yang berkesan seperti wisuda, pelukan, ataupun doa bersama. Kita memulai perjalanan sebagai siswa SMA dengan saling berjabat tangan, tetapi kita mengakhirnya dengan tidak berjabat tangan. Semua terasa tiba-tiba. Tapi saya tetap bersyukur
Firdaus (SMA N 4). Walaupun masa akhir di sekolah tetapi tidak bisa menghabiskannya di sekolah karena situasi pandemi. Terasa mengecewakan, ingin punya waktu lebih untuk bersama sama di sekolah. Namun ada hal yang lebih penting untuk menyelamatkan bangsa dan tidak memperburuk situasi. Lebih baik merelakan dan berkorban daripada orang lain menjadi korban. Setidaknya ada hal positif yang bisa disyukuri
Aldi Chandra (SMA N 4). Kelulusan 2020, mungkin bisa menjadi pengingat di kehidupan yang mendatang, bahwa pada masa-masa tersebut umat manusia sedang berjuang bertahan di tengah pandemi Covid-19, dan mungkin juga menjadi turning point menuju “normal yang baru”.
Anindya Ayu Carissa Putri (SMA N 4) Kelulusan tahun ini sangat menyesakkan bagi saya. Tidak ada belajar bersama sebelum pisah. Tidak ada berkumpul bersama bersorak kelulusan yg diiringi tawa bahagia yg diikuti duka akan perpisahan. Tidak ada kata pamitan dengan teman-teman, bapak ibu guru, dan semua kenangan yg telah tercipta tiga tahun. Tidak ada pengumuman nilai ujian nasional. Jangan tanya seberapa sakit yang saya rasa.Akan tetapi ini jalan Tuhan. Terimakasih untuk semua pencipta kenanganmu.
Doni Raharjo ( SMA N 4 Surakarta) Kelulusan di tahun ini banyak yang bilang sebagai giveaway untuk seluruh pelajar di indonesia. Untuk perubahan kebijakan dalam penentuan kelulusan juga cukup mengagetkan, karena banyak pelajar dan guru yang sudah mempersiapkan untuk UN 2020, tapi karena adanya corona UN pun dihapuskan dan kelulusan pun juga diganti sistemnya.
Kebijakan pendidikan di masa pandemi covid 19 Tentang Kelulusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, secara resmi menyampaikan pembatalan Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2019/2020. Peniadaan UN berlaku untuk satuan pendidikan jenjang SMP/sederajat dan SMA/SMK/sederajat di Indonesia dengan mempertimbangkan keamanan dan kesehatan peserta didik di tengah pandemi Covid-19. Ketetapan ini tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease.
Syarat penentu kelulusan siswa bisa dengan mengadakan ujian sekolah (US), dengan syarat US dilakukan secara daring.
Menurut Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Plt Kabalitbang) Totok Suprayitno,(seperti yang penulis kutip dari : https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/03/un-2020-dibatalkan-ini-syarat-kelulusan-siswa) US tidak hanya mengacu pada ujian tertulis, tetapi juga mencakup nilai rapor dan prestasi yang dimiliki siswa selama menempuh pendidikan. Untuk ujian tertulis (daring), materi yang akan tertuang dalam US merupakan kewenangan guru yang bersangkutan. Sekolah kini berperan sebagai penentu kelulusan siswa dengan berdasarkan evaluasi yang dilakukan guru
Kelulusan SMA/sederajat ditentukan berdasarkan nilai US ditambah nilai lima semester terakhir dan nilai semester genap kelas 12. Sementara itu untuk kelulusan SMK/sederajat ditentukan berdasarkan nilai rapor, praktik kerja lapangan, portofolio, dan nilai praktik selama lima semester terakhir. Kemudian nilai semester genap tahun terakhir dapat digunakan sebagai tambahan nilai kelulusan.
Jika kita telisik kebijakan penghapusan UN membawa dinamika tersendiri. Memang UN hanya satu titik waktu yang mesti dilewati ketika berada di sekolah. Namun, pada titik itu seluruh mata diarahkan ke sana. Pemerintah Daerah merasa akan “naik” atau turun kehormatan” bila prosentasi kelulusan naik atau sebaliknya anjlok. Hal ini akan menjadi pemicu upaya menemukan solusi-solusi agar menaikkan angka prosentase sambil membenahi sistem dan berbagai hal yang soft maupun hard di dalam institusi pendidikan. Sehingga tidak heran jika selama ini perjuangan untuk mendapat nilai UN tinggi ditempuh oleh sekolah dan orang tua dengan berbagai cara.
Pada kondisi pandemic covid 19 ini, kebijakan sudah ditetapkan dan menjadi dasar penentuan kelulusan peserta didik angakatan 2020. Pengumuman kelulusan SMA/K dan sederajat tahun 2019/2020 telah dilaksanakan tepat pada peringatan hari pendidikan nasional tanggal 2 Mei 2020 kemarin.
Semuanya sudah terlalui dan berjalan dengan lancar. Kini putra putri kita akan bersiap menuju perguruan tinggi pilihan. Apakah mereka akan pergi dengan langkah ringan dan wajah menunjukkan kebanggaan? Ataukah mereka akan ke sana dengan malu-malu gemas?
Kita tidak perlu mengkhawatirkan kondisi ini karena mereka adalah anak anak generazi Z yang selalu belajar banyak hal, mengelola informasi, menganalisisnya dan beradaptasi dengan situasi kondisi yang berkembang saat ini. Dari hasil kuisioner telah terbaca bahwa meski merasa lulusan tahun ini dirasa beda, ada yang kurang, ada rasa sedih, ada rasa kehilangan kebersamaaan, namun mereka tetap mampu berpikir bijak dengan mengambil hikmah yang tersembunyi dan tetap bersyukur atas semua yang telah mereka lalui. Mereka tetap bersemangat berjuang meniti hari esok menuju masa depan yang cemerlang.
Sedikit mengutip paparan Prof Suhono Supangkat guru besar ITB pada kegiatan Webinar Guru yang diselenggarakan oleh PB PGRI bahwa “kita sebenarnya harus berterimakasih kepada keadaan ini karena Covid merupakan leader yang mengifluen kita semua sehingga kita bisa menggunakan teknologi dengan bijaksana”.
Kesulitan dan keterpaksaan ternyata akan selalu menuntut kita berjuang dan mencari solusi. dan itu justru akan memberi sisi kebaikan. Jika kita renungkan, kebijakan stay at home ternyata mampu meningkatkan kemampuan digitalisasi dalam dunia pendidikan baik bagi guru maupun peserta didik. Bahkan pada penelitian terdahulu penulis mengatakan bahwa pandemic covid 19 telah menjadi lompatan kompetensi guru guru kita.
Selayaknya kita tetap bangga pada kelulusan yang diloloskan oleh bencana non-alam yang kemudian dilegalkan dengan kebijakan Pemerintah Pusat melalui Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 tanggal 24 Maret 2020. Kebijakan yang menunjukkan keberpihakan pemerintah pada kesehatan masyarakatnya. Ketenangan, keselamatan, rasa aman dan nyaman ternyata lebih penting dan prioritas daripada berkumpul di suatu lokasi untuk kegiatan formal UN dan seterusnya. Teknologi digital mampu mengadirkan diri kita secara fisik meskipun tidak berdekatan .
Indonesiaku… Selamat berjuang melawan pandemic Covid 19… Kita pasti bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar